Oleh: Dr. Toto Suharya, S,.Pd., M.Pd.
Shalat adalah aktivitas penghubung antara manusia dengan Allah. Kata yusolli dalam surat Al Ahzab. 33: 43, berasal dari makna akar kata mendekat, menyambung, atau memberi perhatian. Dikarenakan Allah tidak shalat, maka para penafsir mengartikan yusolli dengan makna mendekatkan manusia kepada-Nya, rahmat, dan doa.
Makna shalat membangun hubungan dengan Allah, karena shalat didalamnya bertujuan mengingat Allah. Selama orang ingat Allah maka dia telah membangun hubungan.
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaahaa, 20:14).
Dalam faktanya shalat telah dicontohkan oleh Rasulullah sebagai kegiatan rukuk dan sujud, maka berdasarkan akar katanya shalat bisa dimaknai sebagai upaya manusia menjaga hubungan dengan Allah. Dalam rangka apa manusia membangun hubungan dengan Allah?
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45)
Maka dengan melihat berbagai penjelasan di dalam Al Quran, ritual shalat rukuk dan sujud dapat dipahami dalam berbagai makna, salah satunya aktivitas manusia dalam mengingat Allah, atau aktivitas manusia dalam rangka meminta pertolongan pada Allah.
Namun pada dasarnya, shalat dalam bentuk rukuk dan sujud adalah tanda bahwa manusia selalu menjaga hubungan baik dengan Allah. Maka seorang muslim yang tidak shalat, dapat dikatakan dia tidak membangun hubungan baik dengan Allah.
Bisa juga dikatakan bahwa orang-orang yang tidak shalat sama dengan memutuskan diri dengan dunia kebaikan. Sangat dipahami oleh akal jika ditemukan fakta dimasyarakat, rata-rata para pelaku kejahatan adalah orang-orang yang tidak disiplin menjaga hubungan baik dengan Allah.
Dalam sebuah kasus di sekolah, anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja, seperti membolos, mencuri, berkelahi, malas belajar, kesiangan masuk sekolah, hampir semuanya mereka bukan tergolong pada anak yang disiplin melaksanakan shalat lima waktu. Hal ini membuktikan bahwa tidak shalat sama dengan memutus hubungan dengan Allah, sama dengan memutus hubungan dengan kebaikan.
Untuk itu dalam dunia pendidikan, karakter yang harus pertama dibangun di sekolah adalah bagaimana anak-anak membiasakan diri untuk membangun dan menjaga keterhubungan dengan Allah dengan disiplin shalat. Ditambah dengan memaknai shalat dari harfiah dan tujuannya.
Tidak ada aktivitas ritual lain sepenting shalat, karena shalat adalah tanda ciri khas karakter dari orang-orang Islam. Jika ada orang mengatakan ritual shalat tidak perlu jika kita sudah ingat Allah, maka kasus ini harus kita kembalikan kepada contoh dari Rasulullah. Apakah Nabi Muhammad tidak shalat? Jika Nabi Muhammad melaksanakan shalat, apakah kita lebih tahu dari Nabi Muhammad?***