Friday, May 15, 2026

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PADA KISAH KURBAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Nabi Ibrahim dengan anaknya. Kisah Nabi Ibrahim ketika mimpi untuk menyembelih anaknya dikisahkan di dalam Al Quran. 

Kisah Al Quran ini seperti dongeng nenek moyang, tetapi karena kisah ini dikabarkan di dalam kitab suci Al Quran, maka kisah ini bukan sekedar dongen. Al Quran mengandung banyak hikmah dan pesan moral. 

ebook memahami logika tuhan dalam beragama

Dari sudut pandang pendidikan kisah-kisah Al Quran mengandung pesan psikologi pendidikan. Dalam teori psikologi pendidikan setiap anak diperlakukan untuk mencapai dengan "kematangan berpikir".

Ukuran kematangan berpikir sebagai keberhasilan pendidikan idenya bisa digali dari Al Quran. Ukuran kematangan berpikir dapat digali dari kisah Nabi Ibrahim dengan Ismail anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaaffaat, 37:102).

Nabi Ibrahim mengajak dialog meminta pendapat pada anaknya, untuk berpendapat tentang nasib dirinya. Hal yang ditanyakan bukan perkara sepele, tetapi perkara hidup dan mati dia. Nabi Ibrahim meminta akanya untuk berpikir dan kemukakan pendapat.

Prediksi Terkuat (Psiko-Kognitif) usia 13 Tahun masa awal remaja, mampu berdiskusi demokratis, berpikir abstrak, dan memiliki kemandirian ego. Pada usia ini, kematangan ditandai dengan kemampuan bersabar. Kemampuan bersabar adalah kemampuan menerima kondisi sulit sebagai kondisi yang harus dilalui dan dihadapi (resiliensi).

Ismail anaknya Nabi Ibrahim diprediksi pada awal remaja sekitar 13 tahun, diajak dialog oleh Nabi Ibrahim untuk menentukan nasibnya sendiri. Digambarkan Ismail pada usia awal remaja 13 tahun, sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri dan punya keberanian untuk berkorban untuk orang lain. 

Kurban secara psikologis membawa pesan, pada usia 13 tahun, idealnya anak-anak sudah punya kematangan berpikir, mengambil keputusan, berani berkorban, dan keyakinan kuat pada Tuhan. Berkurban bisa menjadi bagian pendidikan pada anak-anak usia 13 tahun. 

Pendidikan berbasis pada Al Quran, melatih anak-anak mampu berpikir, mandiri, mengambil keputusan, berani berkorban, dan punya keimanan kepada Tuhan, sudah terjadi sejak usia 13 tahun.***

Thursday, May 14, 2026

PESAN PENTING DARI KISAH DUA ANAK ADAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'dah, 5:27).

Benny Afwadzi (2024) dalam Jurnal Religi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menjelaskan kisah dua anak Adam tertulis dalam Al Quran dan Bible dalam Kitab kejadian 4:1-26. Al-Qur’an menginginkan adanya ibrah atas cerita yang disebutkannya, akan tetapi Bible lebih pada cerita yang cenderung lebih lengkap dan kronologis.

Menurut penulis, dua kisah putra adam adalah simbolis dari dua sifat yang dimiliki manusia. Dua sifat ini diilhamkan ke dalam jiwa manusia, menjadi dua potensi yang selalu dimiliki oleh manusia. Penamaan Kabil dan Habil merupakan sebuah konsep untuk untuk membedakan sifat yang dimiliki jiwa manusia. Kabil dan Habil dalam psikologi bukan dua entitas terpisah, tapi satu kesatuan dalam jiwa manusia.

"dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:7-8).

Selama hidup manusia akan mengalami dan menghadapi konflik dalam jiwanya, jiwa fasik yang aktif, selalu mendorong manusia membunuh jiwa takwa. Jiwa fasik adalah sifat-sifat keduniawian ditandai dengan sifat ingin memiliki. 

Jiwa takwa bersifat pasif karena selalu taat pada aturan Allah, selalu berserah diri pada Allah, cenderung pada kehidupan abadi di akhirat, dan pada faktanya selalu menjadi korban dalam kehidupan dunia. Jiwa takwa berkeinginan segala sesuatu baik dilakukan karena Allah. Jiwa takwa adalah sifat keakhiratan ditandai sifat menyerah. 

Dua sifat ini bisa beprotensi menjadi baik atau buruk jika tidak pandai mengelolanya. Jiwa fasik bisa menjadi sebab konflik antar manusia, jiwa takwa bisa menjadi sebab manusia lemah karena tidak punya daya dan upaya.

Pesan penting dari kisah dua anak Adam adalah manusia harus mengupayakan adanya pendidikan, untuk mengendalikan dua sifat anak Adam yang ada pada setiap diri manusia. Adam yang berpendidikan adalah sosok yang bisa mensintesakan dua sifat yang dimilikinya jadi kebahagian hidup bukan penyesalan. Sifat aktif dan pasif yang ada pada jiwanya, harus diajari bagaimana cara menciptakan kehidupan harmonis sejahtera di dunia dan akhirat.

Pesan pentingnya pendidikan bagi dua sifat anak Adam dijelaskan di dalam Al Quran. Setelah terjadinya pembunuhnan, terhadap sifat takwa, sifat Fasik diberi pendidikan oleh Allah melalui burung Gagak.

Kemudian Allah menyuruh (Faba'atsaseekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (Al Maa'dah, 5:31).

Burung gagak membawa pesan bagaimana sifat aktif yang dimiliki manusia, harus berkolaborasi, bersinergi, bekerjasama, bersama sifat pasif secara seimbang agar mampu membawa, mengendalikan diri kepada pola kehidupan yang membawa dampak kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat. 

Gagak adalah lambang kemampuan bagaimana makhluk bisa belajar secara kognitif dari kejadian di alam. Gagak adalah makhluk yang bisa menggunakan segala potensi yang ada  pada dirinya dan di alam untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.  

Adam adalah sosok yang mampu mengorkestrasi kemampuan yang ada pada dirinya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya dengan terus belajar dari berbagai kejadian di alam. Jika manusia terlalu dominan pada sifat-sifat aktif, manusia bisa menjadi makhluk perusak dan pembuat huru-hara di muka bumi.  Jika terlalu dominan pada sifat pasif, manusia bisa menjadi makhluk-makhluk lemah tak berdaya di muka bumi. 

Pendidikan adalah pengajaran kepada manusia supaya bisa mengendalikan dua sifat yang dimilikinya. Oleh karena itu, manusia harus mendapat pendidikan agar menjadi sosok aktif, kritis, kreatif, kolaboratif, jujur, amamah, rendah hati, berani berkorban, dan beriman kepada Tuhan. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada sekarang ada bagian dari upaya menorkestrasi, dan mengendalikan dua potensi yang dimiliki manusia, agar tidak terjadi pembunuhan pada sifat takwa.***  

Saturday, May 9, 2026

AL QURAN SEBAGAI PARADIGMA BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.

Al Quran adalah paradgima berpikir dalam memandang kehidupan. Al Quran kitab suci yang diimani umat Islam. Salah satu syarat berimannya orang Islam, percaya kitab suci Al Quran wahyu dari Allah melalui Jibril disampaikan kepada Nabi Muhammad. Sampai saat ini, isi Al Quran diakui sebagai kitab suci otentik dari Tuhan, tidak bercampur dengan pemikiran manusia. 

Isi Al Quran adalah pengetahuan bersumber dari Allah. Perintah pertama dari seluruh isi kitab suci Al Quran adalah Bacalah (teliti, pahami, dalami)! Perintah ini diterima oleh Nabi Muhammad ketika di Gua Hira. Perintah Bacalah menjadi pesan penting bagi umat manusia bahwa memiliki pengetahuan adalah kunci untuk mengungkap rahasia kehidupan.

Al Quran sebagai paradigma berpikir secara eksplisit Allah kabarkan dalam Al Quran. "Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Iqra, 96:1). Kata bismi merupakan gabungan dua kata yaitu "bi" dan "ismi". Bi adalah kata depan dengan makna "dengan, oleh, atas". Ismi artinya nama. Jika Allah perintahkan "bacalah atas nama Allah". Kita bisa beri makna bahwa segala sudut pandang yang kita miliki tentang sesuatu harus menggunakan sudut pandang Allah.

Untuk membantu manusia memahami kehidupan, Allah menurunkan kitab suci Al Quran sebagai dasar ilmu pengetahuan bagi manusia untuk memberikan sudut pandang terhadap segala kejadian di muka bumi. Al Quran diturunkan dengan ilmu pengetahuan dari Allah. 

"Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (Hud, 11:14).

Dasar ilmu pengetahuan dari Allah adalah "tidak ada Tuhan selain Allah". Artinya segala sudut pandang kita tentang kehidupan nyata dan gaib mutlak dari sudut pandang Allah. Maka hakikat semua sudut pandang manusia tidak ada pilihan lain, kecuali berserah diri kepada sudut pandang Allah yang maha mengetahui. 

Inilah cara beprikir Islam. Islam artinya berserah diri secara total kepada Allah. Orang-orang yang berpikir mengikuti cara pandang Allah, mengikuti segala keterangan dari Al Quran yang datang dari Allah. Untuk itulah Allah mengingatkan pada umat manusia untuk berpikir dan tidak ada pilihan segala sudut pandang manusia hanya bisa berserah diri pada Allah yang maha luas sudut pandangnya.

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al Hasyr, 59:21).

Mengapa manusia harus berpikir dan mengikuti cara pandang Allah? Karena Allah maha mengetahui baik lahir maupun batin. Argumentasi Allah maha mengetahui, bisa kita konfirmasi di dalam Al Quran. 

"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Al Hasyr, 59:22). 

Bukan cara pandang Barat atau Timur yang harus kita ikuti. Allah menguasai Barat dan Timur. Semua cara pandang manusia harus berserah diri pada cara pandang Allah yang maha mengetahui seluruh isi alam semesta. Semoga Allah membimbing kita semua dengan mengikuti cara pandang Allah yang maha luas pandangan-Nya.***

Thursday, April 23, 2026

SHALAT TIANG AGAMA, PONDASINYA APA?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat adalah tiang agama, tapi tidak pernah ada yang bertannya pondasinya apa? Berpuluh-puluh tahun shalat dinarasikan sebagai tiang agama siapa yang tidak shalat telah merunthkan agama. Kenapa tidak ada yang bertanya pondasi apa?

Pertanyaan ini tidak pernah terpikirkan untuk ditanyakan, karena terlalu takut untuk bertanya. Murid-murid kita memang sangat takut untuk bertanya. Padahal dari pertanyaan akan terbuka pemahaman-pemahanan mendalam untuk perbaikan kualitas manusia. 

Ebook Belajar Pahami Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Kisah Nabi Muhammad ketika menerima wahyu di Gua Hira, dikabarkan Beliau bertanya kepada malaikat. Ketika disuruh membaca, "Apa yang harus saya baca?". Kisah Nabi Muhammad bertanya pada Malaikat, ternyata mengandung pelajaran penting dalam pembelajaran.

Bertanya ternyata menjadi metode belajar agar setiap orang belajar mendalam dan terarah pada tujuan. Mengapa bertanya tidak pernah dinarasikan sebagai metode belajar pada murid? Bahkan ada salah kaprah bahwa bertanya dicap dengan ketidakcerdasan sehingga murid semakin takut bertanya. 

Nabi Muhammad memang pernah bersabda, "Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barang siapa meninggalkan shalat, sungguh ia telah merobohkan agamanya itu." (HR. Imam Al-Baihaqi). Tapi kalau kita sadar seharusnya bertanya tiang tidak akan berdiri tanpa pondasi. 

Lalu pondasi dari shalat apa? Karena tiang tidak akan kokoh tanpa pondasi. Saya berpendapat pondasi dari shalat adalah membaca. Argumennya karena perintah Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah membaca.


 
Kaitan dengan membaca, di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad bersabda, "Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." (HR. Bukhari & Muslim). Membaca Al Fatihah adalah syarat berdirinya shalat. Membaca Al Fatihah bukan perkara melapalkan bacaan, tapi memahami secara mendalam ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al Fatihah. 

Ada ungkapan yang sering disandarkan pada pesan kenabian (meski sebagian ulama menyebutnya sebagai perkataan Imam Syafi'i yang berakar dari ajaran Nabi): "Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya ia berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia berilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya ia berilmu."

Dari fakta-fakta ini, diduga kuat bahwa pondasi dari shalat adalah ilmu, dan ilmu diperoleh dengan membaca sebagaimana Allah perintahkan pertama kali kepada Nabi Muhammad. Ilmu menjadi kunci bagi setiap orang terkhusus muslim untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Membaca untuk mendapatkan ilmu harus jadi pondasi tegaknya shalat sebagai tiang agama. 

Inilah landasan berpikir mengapa dunia pendidikan harus dilandasi dengan melatih murid memiliki pondasi kuat dengan membiasakan atau membudayakan senang membaca. Pondasi ini gagal dinarasikan umat Islam dalam dunia pendidikan, padahal cukup jelas perintah pertama adalah bacalah dengan makna lain adalah berpengetahuanlah!

Urutan logikanya sangat jelas di dalam Al Quran, perintah membaca mendahului perintah shalat. Dugaan semakin kuat bahwa Allah perintahkan membaca agar orang-orang beriman paham mengapa harus mendirikan shalat. 

Ebook Mendalami Isi Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al 'Ankabut, 29:45).

Mengapa membaca menjadi luput dari ingatan orang-orang beriman? Bisa jadi selama ini membaca tetapi tidak membaca, atau faktanya memang kita telah gagal membaca kitab suci, sehingga kita mengabaikan kebiasaan membaca padahal itulah pondasinya shalat.***

Monday, April 20, 2026

BISAKAH MANUSIA MELIHAT TUHAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kisah Nabi Musa adalah pelajaran untuk seluruh umat manusia. Apakah manusia bisa melihat Tuhan? Dari kisah Nabi Musa kita bisa paham. Kalau ada manusia mengaku melihat Tuhan, sudah pasti itu berita palsu dan dusta. 

Miliki Ebook berpikir dengan logika Tuhan

Hakikatnya Tuhan itu tidak bisa dilihat dan dimaterikan. Untuk manusia-manusia yang masih mengaku melihat Tuhan harus segera bertobat. Mari belajar dari kisah Nabi Musa. Bacalah dengan seksama kisah Nabi Musa di bawah ini. 

Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui ". (Al A'raaf, 7:138).

Kisah di atas adalah sebab Nabi Musa meminta kepada Allah bisa melihat Nya . Bani Israel telah meminta kepada Nabi Musa dibuatkan tuhan sebagaimana ada kaum menyembah dan melihat tuhan-tuhan mereka. 

Nabi Musa sudah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa melihat Tuhan. "Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." (Al A'raaf, 7:140).

Nabi Musa sudah mengetahui bahwa tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan. Untuk meyakinkan dirinya, Nabi Musa memohon kepada Allah untuk menguatkan keyakinannya bahwa manusia tidak bisa melihat Tuhan. Untuk itulah Nabi Musa mengajukan permohonan pada Allah. Kisah ini dijelaskan dalam Al Quran. 

Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A'raaf, 7:143).

Kisah ini menjadi jawaban bagi seluruh umat manusia bahwa tidak mungkin manusia bisa melihat Tuhan. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa melihat Tuhan, karena gunung pun hancur luluh lantak. 

Ebook logika Tuhan akan membimbing mu ke jalan lurus

Ini pelajaran mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa mematerikan Tuhan dalam bentuk wujud-wujud sesembahan adalah perbuatan tidak masuk akal atau cacat logika. Bagi manusia berakal sehat mereka bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa, mereka seharusnya paham, jika ada tuhan-tuhan dalam bentuk wujud materi dibuat sesembahan,  sudah pasti itu adalah perbuatan para pendusta.

Sebagaimanan Nabi Musa sebelumnya sudah memberi penjelasan mereka yang membuat tuhan-tuhan sesembahan yang bisa dilihat, "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. (Al A'raaf, 7:139). 

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (Al Mukminuun, 23:91).

Jika kamu manusia berakal sehat, sudah pasti dalam memilih agama mana yang benar, kamu akan memilih agama yang dianut oleh mereka,  tandanya mereka menyembah kepada Tuhan ghaib yang tidak dapat dilihat mata. Itulah tanda-tanda agama yang lurus.*** 

Friday, April 17, 2026

SHALAT OBATI OTAK UBUN-UBUN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al 'Alaq, 96: 15-16).

Orang-orang yang berpilaku jahat ada masalah di ubun-ubun. Ubun-ubun adalah posisinya ada di kepala bagian atas. Ubun-ubun berkaitan dengan otak. Fungsi otak sangat vital dalam organ tubuh manusia. Seluruh pemikiran, prilaku, dan teknologi, yang diciptakan manusia asalnya dari otak. 

Allah ingatkan bahwa ubun-ubun rusak menjadi sebab manusia berprilaku menyimpang. Untuk memperjelas masalah ubun-ubun kita perlu penjelasan ilmiah dari hasil penelitian tentang otak. 

Ebook logika Tuhan membimbing manusia di jalan Allah

Para ahli otak berhasil membagi-bagi otak menjadi beberapa bagian dengan penjelasan fungsi-fungsinya. Ubun-ubun otak bagian mana dan apa fungsinya? Kita cek dengan bantuan ilmu tentang otak (neurosains). 

Ubun-ubun menurut Neurosains adalah bagian otak lobus parietal. Ada di area otak bagian tengah. Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data "input" dari indra kita. 

Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data dari indra kita.

Dapatkan Bacaan Sehat Ebook Produk Logika Tuhan

Ubun-ubun fungsinya sangat vital karena semua infiormasi yang diinput dari indera di proses di ubun-ubun. Fungsi ubun-ubun menurut ilmu otak sebagai berikut:

Integrasi Sensorik: Mengolah informasi tentang sentuhan, tekanan, rasa sakit, dan suhu. Inilah yang membuat kamu tahu rasa tekstur benda atau suhu air saat menyentuhnya.

Navigasi dan Persepsi Spasial: Memberi tahu kamu di mana posisimu berada dan bagaimana hubungan jarak antar objek. Tanpa fungsi ini, kamu akan sulit memperkirakan jarak saat melangkah atau mengambil gelas.

Koordinasi Tubuh, Memungkinkan otak mengetahui posisi bagian tubuh tanpa harus melihatnya. Contohnya, kamu tetap bisa menyentuh ujung hidung dengan mata tertutup berkat lobus ini.

Ebook untuk mengobati ubun-ubun produk berpikir dengan logika Tuhan

Jika ubun-ubun mengalami gangguan, manusia bisa mengalami ganguan masalah rasa, persepsi, motorik, navigasi, bahasa, dan akademik. Allah mengabarkan, orang-orang yang suka dusta dan durhaka, harus ditarik ubun-ubunnya.

Bagaimana cara mengobati ubun-ubun yang sudah terkena gangguan? Allah memberi dasar pengetahuan dengan meluruskan kembali keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terapinya adalah sujud. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan), (Al 'Alaq, 96:19).

Aktivitas sujud secara disiplin, terencana, dan teratur, ada dalam kegiatan shalat. Sujud dalam shalat adalah posisi kesadaran penuh manusia sebagai hamba yang lemah dan tidak berdaya dihadapan Tuhan. 

Sujud adalah bentuk kesadaran manusia, kembali kepada fitrahnya sebagai hamba Tuhan, tidak punya daya dan upaya hanya bisa berserah diri kepada Tuhan  Yang Maha Esa.***

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat, 41:33)***



ADA APA DI WAKTU DHUHA DAN MALAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Demi waktu matahari sepenggalahan naik (dhuha), dan demi malam apabila telah sunyi", (Adhuhaa, 93: 1-2). Ketika Allah mengingatkan manusia dua waktu ini, maka ada hal-hal penting yang harus dipahami manusia dari dua waktu ini. 

Sebelum mencari argumen ilmiah. logika berpikirnya harus dibangun dulu dari ayat lain dalam Al Quran. Berikut ayat yang berhubungan dengan waktu dhuha dan malam.  

"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (Al A'raaf, 7:97).

Malam adalah waktu dimana sebagian manusia dalam keadaan tidur. Keadaan tidur adalah waktu manusia tidak sadar. Pada waktu sedang tidur adalah waktu berbahaya karena sebagian besar manusia tidak dalam keadaan sadar. 

Dapatkan Ebook Produk Logika Tuhan

Dalam keadaan tidak sadar inilah, manusia tidak bisa membela diri jika ada kejadian. Manusia dalam keadaan tidak sadar posisinya sedang terancam. 

"Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (Al A'raaf, 7:98).

Demikian juga pada waktu dhuha, manusia dalam kondisi sedang bermain. Dunia adalah tempat permainan dimana manusia sibuk mengurusi urusan kehidupan di dunia, yang sering melupakan kehidupan akhirat. 

Pada saat manusia sedang bermain dalam arti terlalu larut sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akhirat, manusia sedang dalam posisi tidak sadar. Ketika kejadian besar menimpa bisa jadi manusia dalam kondisi tidak sadar melupakan akibat kehidupan akhirat.

dapatkan Ebook produk logika Tuhan

Berdasarkan informasi dari dua ayat Al Quran di atas, malam berkaitan dengan tidur (naimuun), dan dhuha berkaitan dengan bermain (yal'abuun). Dua kondisi ini menujukkan manusia sedang dalam tidak berkesadaran, yaitu ketika sedang tidur dan bermain. 

Inilah dua situasi kritis bagi manusia, maka Allah dalam Al Quran mengingatkan. Maka di dua waktu ini adalah shalat tambahan selain shalat wajib lima waktu, yaitu shalat dhuha dan tahajud. Dua shalat ini sebagai sarana supaya manusia aman dengan selalu waspada. 

Untuk memotivasinya, Nabi Muhammad mencontohkan shalat dhuha, tahajud (qiyamulail), dan Allah menjanjikan kebaikan-kebaikan yang akan didapat bagi orang yang melakukan shalat dhuha dan tahajud. 

Maka orang-orang yang membiasakan diri shalat dhuha dan tahajud adalah orang-orang sadar tidak akan lalai hanya mengusahakan kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya di akhirat. Manusia-manusia yang selalu sadar ingat Allah, adalah manusia-manusia bermoral yang tidak akan berbuat kerusakan di muka bumi.

Namun demikian Allah peringatkan dalam Al Quran sebagian manusia tidak sadar. "Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin, 36:62).***

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PADA KISAH KURBAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Na...