Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (wijhatun) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Al Baqarah, 2:148).
Makna kata wijhatun dalam bahasa Arab adalah arah atau tujuan, pendapat atau pandangan, dan tujuan spiritual. Para ahli tafsir berbeda-beda pendapat, Al Qurtubi mengartikan sebagai cara atau metode yang dipilih seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya.
Saya berpendapat kiblat di sini berarti sudut pandang kita dalam memaknai kehidupan sehingga kita punya tujuan dalam hidup. Sebaik-baiknya tujuan hidup adalah taat kepada Allah karena Allah tempat kembali.
Arah kiblat ke Madjidil Haram bukan sebatas bermakna fisik menghadap Ka'bah. Menghadap kiblat ke Masjidil Haram adalah wujud ketaatan manusia kepada perintah Allah. Sebagaimana Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad.
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat (qiblatan) yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al Baqarah, 2:144).
Kata "Qiblatan" arti dasarnya menghadap, berhadapan, atau menerima. Kiblat selalu dikaitkan dengan arah fisik ketika beribadah shalat dan sifatnya tetap sebagai aturan wajib syariat shalat.
Jika orang-orang memandang bahwa umat Islam shalat menyembah batu, argumennya untuk membataslkannya ada di Al Quran Al Baqarah ayat 144. Jadi umat Islam tidak menyembah batu, tetapi menghadap kiblat ke Ka'bah sebagai wujud ketaatan umat Islam kepada Allah dan Rasulullah.
Lain hal dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang punya sudut pandang dalam memaknai kehidupan. Kata Wijhatun artinya setiap orang memiliki cara pandang dan tata cara taat kepada Allah. Pada tataran pandangan dan metode inilah akan terjadi perbedaan.
Pandangan umat Islam tujuan hidup adalah untuk kembali kepada Allah dengan taat kepada segala perintah Allah. Perlombaan di muka bumi ini bukan berlomba dihadapan manusia, tetapi berlomba-lomba menjadi manusia terbaik di hadapan Allah.
Manusia-manusia terbaik dihadapan Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Jadi berlomba-lomba dalam kebaikan adalah inti dari ajaran agama Islam. Siapapun mengaku beragama Islam karakternya akan tampil menjadi manusia-manusia bermanfaat bagi orang lain, dimanapun berada. Itulah ciri dari agama yang baik, agama yang mengikuti kiblat sesuai petunjuk Allah.***
No comments:
Post a Comment